Dia pernah memberiku luka yang teramat perih. Dia pernah memberiku pernyataan palsu. Dia pernah bermain api. Dia pernah membuatku kecewa. Dia pernah membuat hariku penuh tanya, tangis, dan hancur.
Kala itu, disaat ia tertawa disini aku menangis. Disaat ia memendam dusta disini aku percaya. Disaat ia berada jauh disana, disini aku berdoa “Tuhan lindungilah dia”.
Kala itu, tak pernah aku merasa ragu. Tak ada rasa curiga. Aku bersyukur karena ia yang begitu membuat hatiku bahagia. Aku tak peduli dengan semuanya.
Ketika kejujuran berbicara, aku seakan jatuh terpuruk ke jurang yang paling dalam. Di satu sisi, aku bahagia karena akhirnya ada kejujuran sehingga aku mengetahui kebenaran.
Ketika semua membaik, tak kuasa ku menahan rasa kecewa yang amat mendalam. Tak kusadari ku membuatnya menangis dan bertanya-tanya. Ia mempertanyakan segala perasaan yang ada di dalam diriku. Aku tak mengerti. Aku tak mampu menggambarkan bagaimana sebenarnya perasaan ini. Yang aku tau, aku bahagia. Tapi hey mengapa ia menangis? Mengapa ia memohon?
Ia bilang aku berubah. Ia bilang aku tak peduli. Ia bilang aku aneh. Ia bilang aku jauh. Ia bilang aku bukanlah aku. Ia bilang rasa sayangku telah hilang. Ia bilang semua ini karma untuknya.
Aku tak pernah bermaksud untuk seperti itu. Semua terjadi begitu saja. Sungguh.
Kini disaat semua itu hanya tinggal cerita, tak mengerti mengapa luka ini tak bisa hilang. Kian membekas dengan rasa perih yang tak kuasa kuhilangkan. Berbagai cara aku mencari penghilang rasa sakit, tak berhasil. Kadang luka itu mengering dan tak menimbulkan rasa sakit sedikitpun, tapi kadang luka itu muncul dan rasa sakit itu tak mengenal iba merenggut diri ini.
Ketika membayangkan saat itu, sungguh hanya benci yang ada. Aku tidak benci dengan siapa ia berada atau dengan siapa ia tertawa, tapi aku benci dengan ia yang kusayang ia yang kucinta memberiku dusta. Aku sadar masa lalu itu membuatku semakin belajar, namun bukan inginku bila masa lalu itu masih menghantuiku. Mungkin dimatamu aku adalah manusia yang penuh dengan cinta, penuh dengan pintu maaf, penuh dengan kesabaran. Ya itu benar. Tapi aku hanyalah manusia yang penuh kekurangan, tak menutup kemungkinan bila aku masih memiliki rasa benci, amarah, emosi, dan sebagainya.
Maafkan aku cinta. Aku bukan wanita kuat yang selama ini ada di dalam pikiranmu. Aku tetaplah wanita. Wanita tetaplah manusia. Mungkin aku sering diam disaat aku marah, aku tertawa disaat aku lelah, aku tersenyum disaat aku terluka, aku memendam kesabaran, hanya semata-mata menjaga perasaanmu.
Disaat kau lelah, aku harus diam (padahal aku pun lelah). Disaat kau marah, aku harus tenang (padahal aku pun marah). Disaat kau jenuh, aku harus menjauh (padahal aku membutuhkanmu). Apa yang harus aku lakukan?
Aku berharap suara hatiku ini tetap tersimpan baik di dalam hati saja. Aku berharap kau mengetahuinya.
Atau mungkin tidak?
